Minggu, 25 November 2012

Review Jurnal Yang Berhubungan Dengan Psikologi dan Komputer


PENGARUH PENGENALAN KOMPUTER PADA PERKEMBANGAN PSIKOLOGI
ANAK: STUDI KASUS TAMAN BALITA SALMAN AL FARISI
Mukhammad Andri Setiawan, Army Widyastuti, Aulia Nurhuda

            Saat ini, perkembangan teknologi telah merambah berbagai bidang. Teknologi tidak lagi sekedar untuk teknologi, tapi teknologi yang telah mencakup berbagai ranah kehidupan manusia, teknologi yang telah mempengaruhi kehidupan manusia, teknologi yang telah menjadi bagian integral kehidupan manusia.
            Di era digital ini, semakin banyak anak-anak yang memiliki akses komputer di rumah atau di sekolah untuk banyak hal, dimulai dari permainan komputer, atau membantu mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan melakukan chatting dan email atau pun browsing di Internet. Subrahmanyam (dalam Kraut, 2000) menyatakan bahwa di Amerika Serikat pada tahun 1999 diperkirakan 67% dari rumah yang ada di AS memiliki game komputer konsol seperti Sega atau Nintendo, kemudian 60% memiliki PC, dan 37 persen di antaranya telah terkoneksi dengan Internet.
            Bahkan Subrahmanyam juga menyatakan dalam salah satu risetnya, terdapat pertanyaan yang diajukan kepada anak berumur 8 hingga 18 tahun yang mempertanyakan barang apa yang akan di bawa jika mereka berada di tengah padang pasir, maka mereka akan menjawab komputer dengan akses Internet, termasuk di antaranya televisi sebagaimana yang diungkapkan oleh Rideout (1999).
            Di Indonesia, walaupun belum banyak ditemukan riset yang mendalam mengenai jumlah komputer rumah yang dipergunakan oleh anak-anak, tapi dari waktu ke waktu, kepemilikan komputer yang semakin meningkat setiap tahunnya sedikit banyak akan mempengaruhi jumlah anak yang berinteraksi dengannya. Dengan semakin meningkatnya peran komputer rumah dalam kehidupan anak-anak, dibutuhkan sebuah perhatian khusus bagaimana efek dari ini semua kepada anak-anak. Waktu yang dibutuhkan oleh anak untuk berinteraksi dengan komputer sangat mungkin menggantikan waktu anak-anak yang seharusnya dipergunakan untuk mengembangkan kemampuan dirinya baik dalam aspek kognitif maupun aspek
motorik.
            Penelitian ini diharapkan mampu membantu untuk menunjukkan kepada orang tua dan pihak-pihak yang berkompeten untuk menggali dan memaksimalkan efek positif dan meminimalisir efek buruk dari penggunaan teknologi komputer pada anak-anak.
            Penelitian ini dilakukan pada Taman Balita Salman Al Farisi yang terletak di komplek Pogung Baru, Sleman, Yogyakarta. Subjek penelitian adalah para balita, penelitian pada balita dilakukan karena lima tahun pertama merupakan masa emas (Golden Age) dari seorang anak sebagaimana dikatakan oleh Freud (dalam Monks. 1999).
            Pada perkembangannya, seorang anak akan melewati beberapa tugas prakembang agar perkembangan fisik dan psikologinya berjalan dengan baik. Tugas-tugas prakembang pada fase kanak-kanak diantaranya adalah: mempelajari ketrampilan fisik, membangun sikap sehat untuk mengenal diri sendiri, belajar menyesuaikan diri dengan teman seusia (peer group), menggabungkan peran sosial pria dan wanita dengan tepat, mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung, mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata serta tingkatan nilai, mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga, serta mencapai kebebasan pribadi.
            Untuk memenuhi fase prakembang ini, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan menurut Hurlock (1980), yaitu:
a. Yang menghalangi
·         Tingkat perkembangan yang mundur
·         Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya
·         Tidak ada motivasi
·         Kesehatan yang buruk
·         Cacat tubuh
·         Tingkat kecerdasan yang rendah
b. Yang membantu
·         Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan
·         Kesempatan-kesempatan untuk belajar tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya
·         Motivasi
·         Kesehatan yang baik dan tidak ada cacat tubuh
·         Tingkat kecerdasan yang tinggi
·         Kreativitas

            Dari penelitian di atas, diperoleh simpulan, bahwa teknologi khususnya komputer berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak.
            Meski demikian, penelitian ini masih merupakan penelitian awal, yang perlu dilanjutkan dengan penelitian lanjutan. Semisal kaitan teknologi dengan permasalahan kesehatan, penglihatan, perkembangan sosial, dan lain sebagainya. Perlu lebih banyak lagi bukti yang dibutuhkan untuk mendukung klaim bahwa komputer dapat membantu meningkatkan kinerja perkembangan anak. Riset lanjutan perlu dilakukan untuk menentukan apakah komputer rumah dapat memiliki efek yang lama dan signifikan terhadap kemajuan kemampuan kognitif dan akademis.



APAKAH KEPRIBADIAN MENENTUKAN PEMILIHAN MEDIA KOMUNIKASI ?
METAANALISIS TERHADAP HUBUNGAN KEPRIBADIAN EXTRAVERSION, NEUROTICISM, DAN OPENNESS TO EXPERIENCE DENGAN PENGGUNAAN EMAIL
Neila Ramdhani

            Penggunaan Information Communication Technology (ICT) sebagai sarana komunikasi semakin meningkat di berbagai wilayah kehidupan manusia. ICT memungkinkan setiap orang berkomunikasi dengan pihak lain yang terhubung dengan internet walaupun lokasi tempat tinggal mereka saling berjauhan. Banyak fasilitas yang ditawarkan oleh internet kepada pengguna. Selain untuk berselancar mencari informasi (browsing) internet juga menyediakan fasilitas untuk berkirim surat elektronik (email). Dengan email, pesan-pesan dapat disampaikan secara tertulis melintasi batas ruang dan waktu. Walaupun tidak selengkap komunikasi tatap muka yang memungkinkan individu menyampaikan pesan verbal dan non-verbal secara langsung, namun kehadiran email sudah cukup memadai utuk menyampaikan sebuah pesan dengan kecepatan yang tinggi.
            Walaupun fasilitas internet sudah tersedia dan dengan mudah dapat diakses, namun tidak semua orang memanfaatkannya. Kenyataan ini telah mendorong para peneliti untuk mencari apa sebabnya demikian. Menurut pandangan Lewin (1951) munculnya perilaku pada diiri seseorang ditentukan oleh dua faktor. Pertama adalah faktor di dalam dirinya, misalnya sifat kepribadian, kecerdasan, tata-nilai dan kondisi fisik. Sedangkan faktor kedua adalah faktor di luar dirinya, yakni segala sesuatu yang ada di lingkungan seperti peralatan, cuaca, orang-orang disekitarnya. Secara formula matematik Lewin merumuskan teorinya ke dalam sebuah persamaan B= f (O,E). Di mana B adalah Behavior ( misalnya perilaku penggunaan internet untuk email); f (fungsi); O (Organism, yaitu hal-hal yang ada di dalam diri individu seperti sifat kepribadian dan kondisi fisik); E adalah Environment segala sesuatu di luar diri individu (adanya failitas internet, kontak sosial, dorongan orang lain untuk menggunakan internet dll). Kedua variable dalam diri dan di luar diri ini saling berpengaruh satu dengan lainnya.
            Formulasi teori yang dikemukakan oleh Lewin tersebut jika dikaitkan dengan perilaku penggunaan email, maka salah satu faktor penyebab dari dalam diri yang mempengaruhi penggunaan email adalah faktor individu (sifat kepribadian). Sedangkan faktor di luar diri yang mempengaruhi penggunaan email antara lain adalah kontak sosial, ciri-ciri kekayaan komunikasi yang ditampilkan oleh sebuah media komunikasi, tersedianya fasilitas internet, dan kemudahan penggunaan internet untuk berkirim email.
            Fulk, Schmitz, dan Steinfield (1990) melakukan kajian terhadap faktor individu pengguna email melalui pendekatan social influence theory. Fulk et all. mengemukakan bahwa pemilihan media dipengaruhi tidak hanya oleh karakteristik media yang digunakan tetapi juga oleh karakteristik individu dan konteks sosial dengan siapa individu berhubungan. Karakteristik individu adalah kepribadian (Minsky & Marin, 1999), persepsi (Davis, 1989; Davis, Bagozzi, dan Warshaw, 1989), pengalaman (Carlson & Zmud, 1999).
            Sedangkan faktor di luar diri yang mempengaruhi pilihan cara berkomunikasi (pakai email atau lainnya) telah banyak dibahas oleh ahli. Salah satu faktor di luar diri yang mempengaruhi penggunaan internet adalah orang lain yang menjadi bagian dari kontak sosial. Konteks sosial adalah teman sekerja (Minsky & Marin, 1999), atasan, dan orang-orang yang ada di dalam jejaring sosialnya juga sangat mempengaruhi perilaku dalam memilih media komunikasi (Fulk, 1993; Markus, 1994; Walther, 1996).
            Selain faktor kontak sosial, keunggulan satu cara komunikasi di dalam menyampaikan pesan juga telah ikut mempengaruhi pilihan cara untuk berkomunikasi. Dua teori komunikasi yang banyak digunakan untuk membahas penggunaan ICT sebagai media komunikasi yaitu Social Presence Theory (Short, Williams, & Christie, 1976) dan Media Richness Theory (Daft & Lengel, 1984; Trevino, Lengel, &
Daft, 1987). Social Presence Theory (SPT) menekankan pada kemampuan media untuk
mengakomodasi kehadiran sosial individu. Kehadiran sosial ini meliputi tidak hanya kehadiran fisik tetapi juga berbagai ekspresi emosi yang dapat menampilkan isyarat yang dibutuhkan sehingga menjadikan komunikasi lebih bermakna. Media komunikasi yang baik dapat memberikan kepada pelaku komunikasi, kesempatan untuk ‘hadir’ terlibat di dalam percakapan. Media Richness Theory (MRT) memandang media komunikasi berdasarkan kemampuan media untuk menyampaikan informasi
(Trevino, at.all., 1987). Berkaitan dengan MRT ini Sitkin, Sutcliffe, dan Barrios-Choplin (dalam Minsky & Marin, 1999) menyebutkan ada dua komponen penentu kekayaan media, yaitu kemampuan menyampaikan informasi dan kemampuan menyampaikan informasi mengenai individu pembawa informasi.
            Dengan demikian, fokus MRT ini adalah pada kemampuan media untuk memberikan feedback, isyarat non verbal, menjaga keutuhan pesan, dan menyajikan ekspresi emosi. Berdasar kriteria tersebut, SPT maupun MRT menempatkan face to face communication sebagai media terkaya, diikuti oleh video conferencing, sychronous audio (telepon), text-based chat, asynchronous audio/email, dan threaded discussion.
            Pada awal mula dikembangkannya komunikasi berbasis komputer, kedua teori tersebut banyak digunakan untuk mempelajari perilaku komunikasi manusia (Short, Williams, & Christie, 1976; Daft & Lengel, 1984; Trevino, Lengel, & Daft, 1987). Namun demikian, kedua teori tersebut tidak memberikan penjelasan mengenai alasan individu dalam memilih email sebagai alat komunikasi. Melihat fakta yang menunjukkan bahwa penggunaan email semakin meningkat dari waktu ke waktu1, maka perlu ada sebuah studi untuk mengkaji apa saja faktor kepribadian yang mempengaruhi penggunaan email.
            Meningkatnya ketersediaan infrastruktur IT akhir-akhir ini, telah menjadikan email sebagai sarana komunikasi yang semakin populer penggunaannya. Ruang dan waktu yang sering menjadi hambatan untuk berkomunikasi kini dapat diatasi dengan penggunaan email. Namun demikian tidak setiap orang memanfaatkan email. Untuk memperoleh manfaat yang maksimal dari email, upaya pemberian pemahaman dan penyediaan fasilitas internet perlu terus ditingkatkan.
            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor kepribadian (personality traits) dengan pemilihan media komunikasi. Dua puluh dua data, baik yang sudah dipublikasikan selama periode 1999-2006 di berbagai jurnal maupun di internet dianalisis di dalam tulisan ini. Kedua puluh dua penelitian tersebut melibatkan 4267 orang, mengungkap dimensi extraversion, neuroticism, dan openness to experience.
            Analisis difokuskan pada hubungan antara faktor kepribadian dengan penggunaan email. Kepribadian extraversion dan penggunaan email ini terbukti behubungan secara signifikan dengan koreksi terhadap kesalahan sampling (r= 0.33; p<0,05) maupun kesalahan pengukuran (r = 0.0085; p<0,05). Hubungan antara kepribadian neuroticism dan penggunaan email terbukti signifikan dengan
koreksi terhadap kesalahan sampling (r= 0.129; p<0,05) maupun kesalahan pengukuran (r = 0.024; p<0,05). Demikian pula halnya kepribadian openness to experience terbukti berhubungan secara signifikan dengan penggunaan email, dengan koreksi kesalahan sampling (r= 0.30; p<0,05), dan koreksi kesalahan pengukuran (r = -0.06; p<0,05).
            Hasil analisis ini memperkuat penelitian sebelum yang mengemukakan bahwa extraversion, neuroticism, dan openness to experience adalah dimensi kepribadian yang dapat dikaitkan dengan penggunaan email.


PSIKOLOGI DAN TANTANGAN MILLENIUM KE TIGA:
DAMPAK TEKNOLOGI INTERNET PADA KEHIDUPAN MANUSIA DAN PENGELOLAAN INSTITUSI PENDIDIKAN PSIKOLOGI
Djamaludin Ancok

            Banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh ilmu Psikologi di dalam menghadapi permasalahan milenium ke tiga. Bila pada dua dekade yang lalu kita berada dalam kondisi yang lebih pasti, segala sesuatu bisa diprediksi secara linear; kini kita dihadapkan pada ketidakpastian. Sangat sulit untuk memprediksi apa yang bakal terjadi di masa depan. Sesuatu yang merupakan kepastian hanyalah ketidakpastian itu sendiri. Situasi yang kita hadapi sekarang ini berbeda dengan situasi masa lalu. Bila diibaratkan dengan sebuah bahtera, masa tiga dekade yang lalu kita berlayar di sebuah sungai yang tenang yang segala lika-liku perjalanan sepanjang sungai dapat diprediksi. Secara pasti kita bisa memperhitungkan kapan sebuah tujuan akan dicapai. Kini kita telah memasuki situasi berlayar di arung jeram yang kita tidak pernah bisa memprediksi apa yang bakal terjadi di depan.
            Dalam kondisi demikian diperlukan adanya paradigma baru di dalam menghadapi kehidupan. Paradigma lama hanya akan menghantarkan pada kehancuran (lihat Ancok, 1997; Gibson, 1997). Demikian pula dengan paradigma pendidikan psikologi.Tampaknya diperlukan suatu paradigma baru. Paradigma lama hanya akan membuat ilmu psikologi menjadi usang, dan tidak relevan dengan tuntutan perubahan.
            Don Tappscott (1996) dalam buku yang sangat laris dengan judul Digital economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence menggambarkan bagaimana dampak teknologi internet pada kehidupan manusia.
            Kehadiran teknologi internet yang semakin canggih telah merubah gaya hidup manusia dan tuntutan pada kompetensi manusia. Kini kehidupan manusia semakin tergantung pada komputer.
            Sepengetahuan penulis belum ada kajian yang sistimatik mengenai dampak dari teknologi internet dan permainan elektronik terhadap berbagai dimensi psikologi kehidupan manusia. Apa yang ditulis berikut ini lebih banyak merupakan pertanyaan yang kiranya perlu dijawab melalui suatu penelitian yang sistimatik.
            Penulis menduga teknologi komputer, internet, elektronik game akan berpengaruh pada berbagai aspek psikologi. Berbagai aspek yang kiranya akan terpengaruh akan diuraikan berikut ini:
1. Perbedaan kepribadian pria dan wanita.
            Kehadiran komputer dan internet telah merubah dunia kerja, dari tekanan pada kerja otot ke kerja otak.. Implikasinya adalah perbedaan perilaku pria dan wanita semakin mengecil. Kini semakin banyak pekerjaan kaum pria yang dijalankan oleh kaum wanita. Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.
            Kita belum memperoleh informasi yang sistimatik tentang perbedaan aspek kognitif dan kepribadian pria dan wanita sebagai akibat penggunaan teknologi komputer seperti yang dikemukakan di atas. Apakah masih ada perbedaan sifat kepribadian seperti yang secara tradisional kita ketahui bahwa wanita lebih menonjol dalam aspek verbal dan emosional, sedangkan pria lebih menonjol dalam aspek non-verbal dan lebih asertif (lihat Conger, 1975). Apakah ketakutan akan sukses semakin menipis pada kaum wanita (lihat Alimatus Sahrah, 1996). Kalau dikaitkan dengan aspek psikologi peran seks ( Bem, 1983.), apakah kini semakin banyak kelompok androgini, ataukah semakin banyak porsi wanita yang berperan seks maskulin? Bila demikian apakah dampaknya bagi hubungan sosial pria dan wanita?
2. Perkembangan kognitif.
            Berbeda dengan menonton televisi yang para penonton bersifat pasif, internet dan permainan elektronik sangat bersifat interaktif. Diduga internet dan permainan elektronik dapat merangsang pertumbuhan kecerdasan anak-anak dan orang dewasa.
3. Perkembangan seksualitas.
            Selain dapat digunakan untuk berpacaran melalui progam internet relay chatting (IRC), internet dapat pula digunakan untuk mengakses gambar dan filem porno. Walaupun gambar porno dan cerita porno dapat diperoleh dari berbagai sumber, kehadiran internet semakin menyemarakkan perolehan pronografi tersebut. Banyak pakar yang berpendapat bahwa rangsangan seksual yang diperoleh anak akan mempercepat proses kematangan seksual (lihat Conger, 1975).
4. Kecemasan teknologi
            Menjelang pergantian tahun 2000 banyak sekali manusia yang dilanda kecemasan dan ketakutan menghadapi kutu Y2K (year two kilo). Ketakutan akan listrik mati, pesawat akan tabrakan, uang di bank hilang, senjata nuklir menembakkan peluru tanpa terkendali. Itu adalah beberapa contoh ketakutan di awal millenium ini.
5. Pola interaksi antar manusia
            Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan tilpon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet ( warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja.
6. Penggusuran manusia
            Dalam kehidupan yang digerakkan oleh teknologi informasi (komputer dan internet) kesuksesan hidup didunia sangat tergantung pada penguasaan pengetahuan, dan kemampuan mengelola emosi, dan kemampuan mengelola hubungan sosial. Banyak pakar berpendapat bahwa kunci sukses untuk mengarungi kehidupan turbulensi perubahannya sangat tinggi, orang harus memiliki tiga modal, yakni intellectual capital, social capital, soft capital, and spiritual capital (lihat Ancok, 1998; Ancok, 1999; Nahapiet & Ghoshal, 1998).
7. Kerahasiaan alat tes semakin terancam
            Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari internet. Tes yang tersedia dalam internet yang pernah penulis buka antara lain adalah tes asertifitas, locus of control, tes inteligensi emosional, tes kecemasan. Kini semakin sulit untuk merahasiakan alat tes karena begitu mudahnya berbagai tes diperoleh melalui internet. Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut.
            Dampak teknologi internet yang maju dengan pesat ini akan dan telah merubah pola kehidupan manusia. Walaupun saat ini baru sebagian orang yang sudah terbiasa menggunakan internet, namun kecepatan internet memasuki kehidupan manusia sunguh luar biasa. Di Amerika Serikat sudah lebih dari 25 persen rumah tangga yang memiliki komputer yang memiliki akses internet (Tappscott, 1996). Walaupun belum ada data resmi berapa persen dari rumah tangga yang memiliki komputer dan akses pada internet di Indonesia, kini makin banyak rumah tangga yang memiliki komputer dan akses pada internet.
            Aspek psikologi yang terkait dengan komputer dan internet jauh lebih luas dari apa yang dikemukakan di atas. Semoga pembaca tulisan ini akan tertarik untuk mengkaji dampak psikologis lain yang belum tertulis dalam makalah ini Semoga tulisan yang pendek ini akan memacu kita bersama untuk lebih meningkatkan pemahaman kita tentang dampak psikologis akibat perkembangan teknologi.


KAJIAN TERHADAP ASPEK PSIKOLOGIS DALAM LINGKUNGAN
AUDIT SISTEM INFORMASI
Josua Tarigan

                Psikologi didefinisikan sebagai kajian ilmiah tentang tingkahlaku dalam proses mental organisasi. Aspek psikologi sebenarnya lebih mengarah kepada manusia sebagai pengguna sistem informasi yang ada. Berdasarkan analisa ICT Watch, maraknya aksi cyberfraud yang terjadi di warnet disebabkan karena tidak adanya kajian dan analisa dampak psikologis oleh para pemilik modal sebelum mendirikan suatu warnet di daerah tertentu. Internet mulai berkembang di Indonesia sejak masuknya PT Indo Internet, sebagai ISP komersial pertama, tahun 1994. Keyakinan bahwa warnet dapat menjadi sebuah solusi dalam menjembatani kesenjangan informasi sekaligus meningkatkan penetrasi Internet di Indonesia, sehingga bermunculan proposal pendirian warnet dengan varian nama yang beragam. Dari sekian banyak proposal tersebut, dan dari sekian banyak warnet yang telah berdiri, nyaris tidak ada yang memasukkan atau melakukan analisa dampak psikologis. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab pergesaran fungsi mulia warnet, yang pada awalnya ditujukan sebagai solusi dalam menjembatani kesenjangan informasi menjadi sarang bagi para pelaku cybercrime. Menurut analisa dari ICT Watch, kondisi ini terjadi karena kekosongan mengenai pembahasan social cost, yakni untuk mengadakan pelatihan atau pendidikan kepada masyarakat sekitar sebagai sebuah tanggung-jawab psikologis, sehingga Warnet sebenarnya bukan hanya berbicara mengenai margin keuntungan semata.
            Apa yang diungkapkan oleh ICT Watch tersebut merupakan satu bagian yang menunjukkan pentingnya perhatian auditor terhadap lingkungan audit berbasis sistem informasi. Sebenarnya perhatian terhadap aspek psikologis bukan hanya dalam lingkungan audit berbasis sistem informasi, namun juga dapat terjadi pada aspek lain selain aspek audit. Memang isu Audit Sistem Informasi merupakan isu yang tergolong cukup baru dalam konteks Indonesia. Penelitian lebih jauh sangat diperlukan dalam aspek ini, sebagai salah satu bagian yang dapat dilakukan dalam konteks perkembangan teknologi informasi.
            Merupakan hal yang sudah menjadi wacana umum, jika karyawan yang berumur memiliki resistant to change yang lebih besar terhadap lingkungan berbasis information system. Menurut penelitian yang dilakukan oleh pakar Psikologi Roger Morrell, orang yang sudah berumur punya tingkat kesulitan lebih tinggi untuk menyeleksi informasi yang masuk, mana yang penting dan mana yang kurang penting, dibandingkan dengan orang-orang yang lebih muda umurnya. Seiring dengan penambahan umur pada manusia, diikuti dengan penurunan kapasitas ingatan, hal ini menyebabkan, penerimaan informasi yang terlalu banyak akan mempengaruhi kemampuan para lanjut usia memproses informasi yang penting.
            Penelitian yang dilakukan oleh Roger Morrell tersebut merupakan salah satu aspek Psikologis yang harus diperhatikan oleh organisasi terutama Auditor. Pemahaman terhadap aspek Psikologis ini merupakan hal yang sangat jarang sekali dibahas dalam ruang lingkup Audit, namun pemahaman terhadap aspek psikologis akan memudahkan auditor dalam melakukan penugasan audit dalam lingkungan berbasis Audit Sistem Informasi dan juga sebagai dasar dalam memberikan rekomendasi yang lebih tepat. Aspek Psikologis dalam hal ini dibagi menjadi dua, yakni aspek error dan aspek fraud.
            Dalam isu sistem informasi, ada 2 isu resiko yang dapat terjadi, yakni error yang disebabkan oleh ketidaksengajaan oleh user dan yang kedua adalah fraud yang disebabkan karena kejahatan yang dilakukan oleh pihak internal organisasi bisnis. Pemahaman auditor terhadap aspek pskilogis dalam lingkungan berbasis Audit Sistem Informasi akan membantu Auditor dalam penugasan Audit terutama dalam melakukan analisa terhadap erorr dan fraud yang terjadi dalam sistem informasi organisasi bisnis sehingga sekaligus dapat memberikan rekomendasi yang tepat bagi organisasi, berdasarkan temuan-temuan yang ada dalam penugasan lapangan.
            Aspek Psikologis dalam resiko error, terdapat elemen “lack of information”, “too much jargon”, “technophobia” yang seringkali dialami oleh user yang perlu dipahami oleh Auditor, sedangkan dalam resiko fraud terdapat elemen ”incentive/ pressure”, ”oppurtunity” dan ”rationalization” yang cukup signifikan mempengaruhi pola fraud yang terjadi dalam organisasi.


KEBUTUHAN BERAFILIASI, INTROVERSI KEPRIBADIAN SERTA KETERGANTUNGAN PADA FACEBOOK PADA MAHASISWA
Tri Nurmala Dewi dan Joko Kuncoro

            Perkembangan IPTEK yang begitu pesat, membawa perubahan gaya hidup dalam membina hubungan akrab dengan orang lain. Jejaring sosial sebagai salah satu sarana berkomunikasi dalam bentuk maya, berhubungan atau menjalin komunikasi secara verbal melalui seperangkat komputer atau sejenisnya yang dihubungkan melalui suatu jaringan telekomunikasi. Di antara situs-situs jejaring sosial seperti EMRC, Friendster, Blog, MySpace, Facebook, Twitter dan Kaskus, facebook menempati peringkat pertama (http://Alexa.com/ 30 April 2010). Pengguna facebook di Indonesia mengalami peningkatan setiap bulannya, dari catatan survei yang dilakukan Global Monitor, dilansir melalui Inside facebook, Jumat (13/11/2009), menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pengguna facebook (facebooker) terbanyak di kawasan Asia dan posisi ke-3 negara dengan pengguna facebook terbesar di seluruh dunia dengan rentang usia adalah 12-24 tahun
            Akselerasi pengguna facebook menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan yang lebih dalam bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan pernyataan Handi Irawan D., Chairman Frontier Consulting Group dalam kolomnya di majalah Marketing Januari 2010. Ia mengatakan, “Konsumen Indonesia lebih suka bersosialisasi daripada menggunakan search engine untuk melakukan pencarian informasi”. (Gizone. Edisi 12/th.1/Maret 2010).
            Facebook yang digunakan secara tepat, banyak manfaat yang akan diperoleh seperti sebagai media berkomunikasi, sarana promosi dalam dunia bisnis dan industri serta berbagi informasi seputar pendidikan, diskusi ataupun informasi aktual lainnya akan tetapi intensitas penggunaan facebook yang tidak wajar yang kemudian menjadikan makna facebook mulai bergesar (Arani, 2010). Penggunaan facebook yang terlalu sering disisi lain akan menciptakan ketidakseimbangan dalam kehidupan seseorang, misalnya berkurangnya perhatian kepada keluarga atau berkurangnya aktivitas lainnya yang lebih bermanfaat karena waktu telah tersita untuk situs facebook.
            Manusia adalah mahkluk sosial dengan tipe kepribadian yang berbeda-beda. Setiap individu selalu berhubungan dengan orang lain meski berbeda cara dan intensitasnya. Kecenderungan ini dikenal sebagai kebutuhan afiliasi. Kebutuhan ini melekat pada tiap individu termasuk yang berkepribadian introvert. Ada banyak cara dan media yang dapat digunakan untuk memuaskan kebutuhan ini. Jaringan sosial Facebook adalah salah satunya.             Kebiasan mengakses jaringan sosial ini diduga dapat menimbulkan ketagihan dan ketergantungan. Tujuan peneilitian ini adalah mengetahuai keterkaitan antara introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap facebook. Populasi penelitian adalah mahasiswa UNISSULA dengan sampel sebanyak 167 yang diambil secara proporsional.
            Data ketergantungan terhadap facebook diukur dengan menggunakan skala yang disusun berdasar karakteristik dari Young dan skala afilisasi dari Murray untuk mengukur kebutuhan afiliasi. Data introversi kepribadian diukur dengan skala introversi kepribadian dari Jung. Ada tiga hipotesis yang akan diuji. Pertama adalah ada keterkaitan antara kebutuhan afiliasi dan introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap facebook. Kedua adalah ada hubungan positif antara kebutuhan afiliasi dengan ketergantungan terhadap facebook dan ketiga adalah ada hubungan positif antara introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap fecbook. Analisis data dilakukan dengan teknik statistic regresi ganda.
            Hasil analisis menunjukan besarnya Koefisien regresi ganda R = 0.278, F = 6.863 dan p = 0.001 (p < 0.01) yang berarti ada hubungan yang signifikan antara kebutuhan afiliasi dan introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap facebook. Uji hipotesis kedua menunjukan ry1 = - 0.163 (p = 0.036) yang berarti hipotesis kedua ditolak sedangkan uji hipotesis ketiga menunjukan Ry2 = 0.189 dan p = 0.015 (p < 0.05) yang berarti hipotesis ketiga diterima.
            Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data penelitian maka diperoleh kesimpulan: Pertama, ada hubungan yang sangat signifikan antara kebutuhan berafiliasi dan introversi kepribadian dengan ketergantungan facebook; Kedua, ada hubungan negatif yang signifikan antara kebututahn berafiliasi dengan ketergantungan facebook; Ketiga, ada hubungan positif yang signifikan antara intoversi kepribadian dengan ketergantungan facebook.
            Saran bagi mahsiswa yang memiliki introversi kepribadian agar tidak terlalu larut dalam penggunaan facebook dan aktif dalam melakukan interaksi sosial secara langsung (real) karena setiap individu adalah bagian dari lingkungan sosial itu. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mulai belajar mengikuti organisasi-organisasi atau kegiatan ekstra kampus, baik dalam lingkup fakultas atau pun universitas.
            Saran bagi para orangtua untuk memperhatikan karakteristik anak dengan mengetahui tipe kepribadiannya dan memenuhi kebutuhan berafiliasi anak serta memberikan perhatian yang cukup agar anak tidak melarikan dirinya kepada facebook sampai berlebihan. Peran guru atau dosen dalam membantu anak didiknya dalam mengurangi penggunaan facebook yang berlebihan salah satunya adalah dengan cara memberikan pesan moral yakni memberitahukan dampak positif dan negatif facebook agar bijak dalam memanfaatkannya, meningkatkan hubungan sosial dengan anak didik melalui komunikasi secara langsung, terutama bagi anak didik dengan introversi kepribadian.
            Peneliti selanjutnya diharapkan agar lebih memperhatikan faktor lain yang berpengaruh terhadap ketergantungan facebook misalnya: kontrol diri, minat, motif, pengetahuan, dan usia, serta mempertimbangkan kembali teknik sampling yang digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar